Skandal Menu Tak Layak & Sanitasi Buruk: BGN Didesak Bekukan Operasional SPPG Bangun Bangsa Simalungun
HUNTERNEWSTODAY COM
SIMALUNGUN – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Simalungun kini berada di titik nadir. Yayasan Bangun Bangsa, selaku pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menuai kecaman hebat setelah serangkaian temuan lapangan mengungkap bobroknya kualitas pangan dan buruknya sistem sanitasi di dapur produksi mereka.
Badan Gizi Nasional (BGN) kini didesak untuk segera mengambil langkah tegas: Hentikan sementara operasional SPPG Bangun Bangsa sebelum jatuh korban kesehatan di kalangan siswa.
Menu “Miris”: Ikan Bersisik dan Porsi Mini
Selama dua minggu berturut-turut, siswa-siswi di beberapa sekolah di Kecamatan Raya mengeluhkan hidangan yang jauh dari kata “bergizi”. Berdasarkan laporan yang dihimpun pada Selasa (21/04/2026), standar kelayakan konsumsi di dapur yang berlokasi di Kelurahan Sondi Raya ini dipertanyakan.
♥
”Daging ayam yang disajikan terlalu kecil, tidak sebanding dengan kebutuhan gizi kami. Lebih parah lagi, ikan nila yang diberikan masih penuh sisik dan ukurannya sangat tidak layak,” ujar salah satu siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Temuan ini kontras dengan janji pemerintah untuk menyediakan asupan protein berkualitas tinggi bagi generasi penerus bangsa.
Temuan Satgas: Drainase Tersumbat, Ancaman Kontaminasi
Puncak polemik terjadi pada Rabu (22/4/2026), saat Wakil Bupati Simalungun sekaligus Ketua Satgas MBG, Benny Gusman Sinaga, melakukan monitoring mendadak. Hasilnya mengejutkan: sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau sanitasi di SPPG tersebut dalam kondisi tersumbat.
Kondisi sanitasi yang buruk di area pengolahan makanan merupakan pelanggaran fatal terhadap standar higiene sanitasi pangan. Drainase yang mampet tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tetapi juga menjadi sarang bakteri yang berisiko tinggi mengontaminasi makanan (cross-contamination).
Pembelaan Korwil: “Hanya Miss Biasa?”
Menanggapi polemik ini, Korwil MBG Kabupaten Simalungun, Debora Purba, mencoba memberikan klarifikasi. Terkait temuan ikan bersisik, ia berkilah masih mencari bukti asal muasal produk tersebut.
”Saya sudah konfirmasi ke Kepala SPPG-nya. Saya masih cari bukti itu berasal dari PM (Penerima Manfaat) yang mana. Dan tidak ditemukan di dalam ompreng juga,” dalih Debora melalui pesan singkat WhatsApp.
Sementara mengenai masalah IPAL, Debora terkesan meremehkan temuan Satgas dengan menyebutnya sebagai kendala teknis yang lumrah. “Kemungkinan ada miss yang memang biasa terjadi di setiap dapur. Dan kami meminta mitra untuk segera memperbaikinya,” tambahnya.
Desakan Penutupan Sementara
Sikap “santai” pengelola dalam menanggapi temuan krusial ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Masyarakat dan pengamat kebijakan publik mendesak agar BGN tidak berkompromi dengan keselamatan siswa.
Alasan kuat penghentian operasional sementara:
Evaluasi Total: Memastikan standar porsi dan kebersihan bahan baku sesuai regulasi BGN.
Audit Sanitasi: Perbaikan IPAL harus tuntas sebelum dapur kembali memproduksi makanan massal guna menghindari wabah keracunan makanan.
Efek Jera: Memberikan sinyal kuat kepada seluruh mitra MBG agar tidak bermain-main dengan kualitas gizi anak sekolah.
Kini bola panas ada di tangan Badan Gizi Nasional. Jika operasional tetap dipaksakan berjalan di tengah carut-marut manajemen dan fasilitas, maka program MBG di Simalungun hanya akan menjadi proyek “formalitas” yang justru membahayakan kesehatan para siswa
Editor ;xxx3






